Temple of Learning Part 1: Jogjakarta
Menelusuri lorong ingatan, memory lane, 13
tahun silam.
“Bapak, apa yang harus saya lalukan? Saya bingung,
melanjutkan perjuangan saya untuk melamar beasiswa ini untuk keempat kalinya
atau mengikuti saran kedua orang tua saya untuk melanjutkan S2 di dalam negeri
saja?”
Demikian pertanyaan yang saya ajukan kepada mentor saya
Bapak Aditya.
Beliau berkata:
“Bapak rasa tidak ada salahnya kamu mengikuti saran kedua
orang tua kamu, dengan catatan kamu mencoba lagi untuk memasukkan lamaran
beasiswa itu untuk keempat kalinya. The worst case, kemungkinan
terburuk, jika beasiswa kamu tidak diterima, kamu sudah melanjutkan S2 seperti
yang kamu harapkan.”
Perjalanan untuk meraih cita-cita dan mewujudkan impian
tidaklah semudah angan. Semua hal harus diperjuangkan, perlu kerja keras,
durian tidak runtuh begitu saja dari langit. Semua membutuhkan keyakinan,
ketekunan, kerja keras dan upaya tanpa henti.
Pertengahan Juli 2011….
![]() |
| Tugu Jogjakarta |
Saya memulai perjalanan S2 di Jogjakarta, kota pelajar, di
Universitas Gajah Mada. Kala itu, Jogja merupakan kota yang masih cukup nyaman,
dengan daya tarik wisata dan sisi lokalnya yang kental akan nuansa Jawa. Saya
menikmati kuliah saya, dan sangat dekat dengan teman-teman di kelas. Dengan
berbagai macam latar belakang dan usia, berada di kelas dan di luar bangku
kuliah bersama teman-teman adalah hal yang sangat menyenangkan.
Di kelas, saya memiliki teman yang sudah sangat senior,
usia beliau mungkin sudah mencapai 50-an, seorang dosen Tehnik Nuklir di UGM
dan belum mengambil S2. Namanya Pak Santosa. Pihak kampus mengancam beliau jika
tidak segera mengambil S2, maka beliau akan segera dipecat dari kampus. Karena
alasan itulah, beliau kemudian mengambil S2. Dari sisi jam terbang mengajar,
beliau sebenarnya seorang dosen kawakan dengan jam terbang yang sangat tinggi
dan sudah keliling dunia karena keilmuannya.
Sebenarnya beliau tidak terlalu memedulikan urusan
administrasi dan kepangkatan di kampus tempat beliau mengajar. Bagi Pak
Santosa, hidup ini adalah sebuah universitas. Dengan gelar S2 atau tidak, semua
itu tidaklah menambah atau mengurangi sesuatu menurut beliau, tetapi urusan
administrasi berkata lain. Beliau tidak punya pilihan lain selain “harus
memiliki gelas S2”, jika tidak konsekuensinya, “pecat”.
Hal lain yang menarik tentang Pak Santosa bagi saya adalah
beliau seorang philosopher, seorang filsuf yang suka mengajukan berbagai
macam pertanyaan kepada kami semua yang masih muda. Diskusi-diskusi di kelas
dan di luar kelas menjadi hidup karena kehadiran beliau.
Pernah suatu ketika saya murung karena memikirkan masa
depan dengan segala ketidakpastiannya. Seusai kelas, Pak Santosa menghampiri
saya dan bertanya: “Bapak lihat kamu suka murung akhir-akhir ini, mengapa?”
Saya terdiam sejenak, kemudian berkata: “Pak Santosa, jika
kondisi saat ini bukanlah kondisi ideal yang saya impikan, seperti apa saya
harus menyikapi situasinya.”
Beliau balik bertanya: “Mengapa kamu tidak menganggap
berada di tempat ini bukan kondisi yang ideal? Kamu berada di tempat ini dan
lulus tes dengan begitu mudah, sementara kebanyakan orang hanya bisa bermimpi
untuk berada di tempat ini, di kampus ini. Banyak yang mencoba untuk mengikuti
ujian tes masuk ke sini, tetapi mereka tidak berhasil.”
“Pak Santosa, saya sebenarnya masih ingin melanjutkan
sekolah saya ke Australia. Saya sedang mengajukan lamaran beasiswa untuk
keempat kalinya. Saya masih berharap saya bisa ke sana. Saya sangat ingin pergi
ke Australia, Pak.”
“Medha, tidak ada yang salah dengan keinginanmu, Yang salah
adalah kamu terlalu mencemaskan sesuatu yang belum terjadi. Saat ini yang bisa
kamu lakukan hanyalah menunggu kemungkinan berikutnya. Lepaskan harapanmu akan
hasil, entah nanti dipanggil interview atau tidak itu adalah urusan
berikutnya. Urusanmu yang sekarang adalah fokus untuk menjalani apa yang ada di
depan mata. Nikmati momen ini, jalani saat ini dengan sebaik-baiknya. Tak usah
kau risaukan masa lalu, pun tak perlu kau cemaskan masa depan. Masa lalu sudah
berlalu, masa depan tidak berada dalam genggamanmu. Satu-satunya yang ada dalam
genggamanmu adalah saat ini, masa kini.”
Saya memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh Pak Santosa.
Iya juga ya, mengapa saya harus mencemaskan masa depan. Baiklah, mulai saat
ini, saya akan menjalani saat ini dengan sebaik-baiknya, kebersamaan dengan
teman-teman sekelas, dengan persahabatan kami adalah sesuatu yang sangat
berarti. Ya, saya patut mensyukuri semua hal yang sudah saya dapatkan.
Waktu berjalan begitu cepat, hingga ujian akhir semester 1
pun mulai mendekat, saat itu, sudah awal Januari 2012. Tepat 3 minggu sebelum
ujian akhir semester 1 dimulai, saya menerima sebuah email dari Australian
Development Scholarship (ADS) yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi
administrasi (shortlisted) beasiwa ADS. Dari 2.000 orang pelamar dari
seluruh Indonesia, saya masuk seleksi ke 700 orang.
Setelah ini, saya akan mengikuti ujian wawancara dan tes
Bahasa Inggris yang disebut IETLS (International
English Language Testing System). Pelaksanaan tes tersebut
bersamaan dengan ujian semester 1 di kampus. Kembali, saya dilanda rasa
bingung. Apa yang harus saya lakukan? Saya sudah nyaman dangan apa yang saya jalani
di kampus saat ini, tetapi ada kesempatan lain yang jauh lebih besar menanti di
ujung jalan ini.
Saya kemudian berdiskusi kembali dengan Pak Santosa tentang
hal ini. Beliau menyarankan saya untuk mengikuti ujian wawancara dari ADS dan
tetap mengikuti ujian di kampus. Beliau berkata bahwa rasanya pihak kampus bisa
memberi keringanan untuk melakukan ujian semester susulan jika saya
menyampaikan jauh hari sebelumnya.
Saran dari beliau saya ikuti. Kali ini, saya harus melatih
diri untuk persiapan ujian wawancana. Jika sebelumnya Pak Aditya yang melatih
saya untuk persiapan wawancara, maka kali ini saya harus berlatih seorang diri
tanpa bimbingan. Tetapi itu tidak menyurutkan niat saya untuk mempersiapkan
diri. Berbekal kegagalan dalam ujian wawancara sebelumnya dan bimbingan beliau
saat berada di Mataram, saya melatih diri saya setiap hari. Selain
mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian wawancara, dan IELTS, saya juga
mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian di kampus. Tidak mudah, tetapi saya
berjanji kepada diri saya untuk melakukan yang terbaik.
Picture courtesy: Gustomy
(www.pexels.com/photo/traffic-at-night-12255513/)

Komentar
Posting Komentar