Temple of Learning Part 2: Mandala Para Asura

Anand Ashram Ubud, 14 Januari 2026 (Makara Sankranti)

Hari ini adalah Hari Jadi Anand Ashram yang ke-36. Hari Jadi Anand Ashram kali ini adalah tahun pertama tanpa kehadiran Guruji Anand Krishna. Ya, rasanya tak pernah sama, harus kuakui semua itu. Jujur, rasanya ada yang hilang dan semua itu tidak dapat dipungkiri. Tetapi, life must go on, kehidupan terus berlanjut, meskipun rasanya ada rasa kehilangan yang takkan pernah bisa digantikan oleh apa pun dan siapa pun.

Saat berada di Anand Ashram Ubud untuk mengikuti perayaan, saya naik ke Aadi Parashakti Temple, sebuah kuil untuk memuliakan Ibu Semesta dalam wujudnya sebagai Lalita Tripura Sundari. Rasanya begitu hening dan tenang. Ada beberapa hal yang masih menjadi pertanyaan saya terkait dengan pembahasan buku Yoga Sutra Patanjali karya Guruji Anand Krishna.

Pertanyaannya:

Apakah mereka yang disiplin mampu untuk berserah diri? Apakah mereka yang tampak disiplin itu sebenarnya orang-orang yang sudah sadar, sudah cerah?

Beberapa hari belakangan ini, saat membuka buku In the Footsteps of the Master karya Guruji Anand Krishna secara acak untuk mencari inpsirasi, pesan berikut membuat saya berpikir mendalam:

“Orang bijak menyadari bahwa Semua Ini adalah Atma (Aku Sejati sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Sang Aku atau Jiwa Agung); orang bodoh merasa bahwa Semua Ini adalah Materi; orang munafik menipu diri mereka sendiri dan orang lain dengan mengucapkan Atma, Atma secara mekanis, tetapi maksud di baliknya materi, materi. Hindari orang-orang seperti itu.”

Mereka yang munafik, jika dilihat sekilas bisa terlihat sangat rajin dan disiplin. Kesan yang kita tangkap sekilas bisa seperti itu. Tetapi disiplin yang mereka lakukan sebenarnya tidak memiliki substansi dan tujuan yang jelas. Disiplin yang dilakukan bukanlah untuk tujuan yang mulia, tetapi semata-mata demi kepentingan pribadi dengan tujuan untuk memperbesar ego mereka. Disiplin yang dilakukan bukan semata-mata untuk melenyapkan ego, tetapi entah untuk memperoleh pengakuan atau validasi, kekuasaan, kedudukan, ketenaran atau keuntungan materi.

Saya juga mengamati orang-orang semacam itu juga suka menjelek-jelekkan orang lain. Di mata mereka, semua orang itu salah dan cacat. Dirinya seolah-olah paling benar, dan tidak pernah melakukan satu pun kesalahan.

Selain itu, mereka juga suka menjatuhkan orang lain. Mereka tidak akan senang melihat kemajuan orang lain. Kemajuan orang lain adalah ancaman bagi mereka. Karena tidak mampu atau tidak mau untuk mengubah diri, maka cara paling gampang adalah menarik dan menjatuhkan orang lain ke level mereka.

Hal lainnya adalah mereka bisa hafal isi kitab-kitab yang dimuliakan. Jika berbicara dengan orang-orang semacam itu, mereka bisa bicara dengan mengutip berbagai macam isi kitab. Tetapi dalam kenyataannya mereka sebenarnya tidak melakoni apa yang diajarkan dalam kitab-kitab tersebut. Bagi kebanyakan orang, mereka tampak pintar dan cerdik, tetapi semua itu dilakukan semata-mata untuk menutupi kelemahan mereka. Jika salah pun, orang-orang seperti ini sulit untuk minta maaf dan sulit untuk mengakui kesalahan. Jika pun salah, pintar ngeles dan mencari 1001 alasan untuk membenarkan kelemahan mereka.

Guruji Anand Krishna juga membahas panjang lebar tentang karakter manusia yang munafik dan meminta kita untuk berhati-hati menghadapi manusia semacam ini (Artikel Brahma Hatya, Anand Krishna):

“Amatlah sangat penting bagi pada Sadhaka atau Pejalan Spiritual untuk menghindari orang-orang yang bersifat syaitani. Karena mereka sedang dalam proses, dalam perjalanan jatuh dari Berkah Ilahi dan dapat menyebabkan orang lain yang berhubungan dengan mereka jatuh dari Berkah Ilahi juga.”

“Biasanya, orang-orang seperti itu dilahirkan dalam keluarga syaitani atau asurika. Pasangan mereka memiliki sifat yang sama, demikian pula dengan saudara dan anak mereka. Dalam hal ini Law of Attraction, Hukum Ketertarikan, ‘Sejenis Menarik Sejenis’ tampaknya bekerja dengan sempurna.”

“Pemandu Spiritual saya selalu mengingatkan kita menghindari orang-orang seperti itu ‘dengan segala cara’. Kau bisa mengenali mereka dari getaran mereka. Mereka munafik. Mereka bisa terus mengulang atma, atma, tetapi sebenarnya hati mereka mengulang materi, materi. Seorang sadhaka sejati mengetahui hal ini, saya memberkahi setiap sadhaka untuk mengembangkan kepekaan semacam itu. Tapi, jika kau memutuskan untuk mengabaikan Berkah dan membiarkan dirimu terbawa oleh indra dan kesenangan indrawimu, maka saya tidak dapat melakukan apa pun untukmu.”

“Kau harus memutuskan sendiri kehidupan seperti apa yang ingin kau jalani dan dibimbing oleh siapa? Oleh para Daiva, para tercerahkan atau oleh Danava, para setan?”

“Kedua para deva dan danava ada di dalam maupun di luar dirimu. Sekarang, apa yang kau inginkan? Apakah kau ingin daiva di dalam dirimu berkomunikasi dengan kekuatan Ilahi di luar, atau membiarkan kekuatan gelap di dalam dirimu muncul ke permukaan terhubung dengan setan di luar dan binasa dalam proses tersebut?”

Selain itu, Guruji Anand Krishna juga meminta kita berhati-hati dalam urusan pergaulan, khususnya mereka yang sudah menempuh jalur spiritual. Kutipan berikut kiranya patut kita renungkan secara lebih mendalam:

“Seseorang berkomentar ‘sangha* adalah sangha, mandala* adalah mandala, tetapi seseorang juga harus realistis. Ini adalah bahasa mereka yang tidak mengerti apa itu sangha atau mandala. Bergaul dengan mereka hanya akan menyebabkan kemerosotan kesadaran yang tidak dapat dikembalikan.”

(Anand Krishna, in the Footsteps of the Master, pg. 65)

*Sangha atau Mandala dalam konteks ini merujuk pada Kekuatan Kebersamaan dan pergaulan yang Menunjang Kesadaran.

Berada dalam sebuah komunitas spiritual (ashram/sangha/mandala), hendaknya kita harus selalu waspada. Guruji pernah menyampaikan bahwa ashram adalah versi mini, miniatur dari dunia, dan segala sesuatu ada di dalamnya, entah sesuatu yang sangat baik atau sesuatu yang sangat buruk. Dua-duanya ada di dalam ashram, dari para deva maupun danava, setan, mereka eksis. Maka bisa dikatakan di dalam ashram pun, kita tidak aman-aman banget. Kita harus pilih-pilih dengan siapa kita bergaul. Di atas segalanya adalah sangat penting untuk mengembangkan kepekaan sehingga kita mampu mendeteksi getaran-getaran mereka yang munafik dan tidak terbawa arus pergaulan yang tidak tepat.

Mereka yang munafik sulit untuk dikenali dan dideteksi keberadaannya, karena mereka berada dalam grey area (area abu-abu). Mudah untuk mengenali putih sebagai putih dan hitam sebagai hitam. Warna abu-abu sulit untuk dideteksi karena mereka berada di antara hitam dan putih. Tetapi dengan mengembangkan kepekaan, getaran-getaran mereka dapat dideteksi dengan mudah. Kita dapat mendeteksi mereka pada level energi. Kata-kata manis dan penampilan menawan bisa menipu kita, tetapi energi dan getaran-getaran mereka tidak akan mampu menipu mereka yang telah mengembangkan kepekaan.

So, seperti yang diingatkan Guruji, ABC, always be careful.

Picture courtesy: vickiesullivan.com/how-to-avoid-hypocrisy-accusations-when-you-change-your-mind


 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadgati Praptir-astu, Memaknai Kematian

Self-Discipline: Manfaat Nyeker atau Earthing

Self-Discipline: Walking Barefoot