Kisah yang Tak Pernah Usai



Kisah kita
adalah kisah yang telah Kau tuliskan
jauh sebelum aku mengenal waktu

 

Janji kita
adalah janji yang telah terucap
sebelum bumi mengenal fajar,
sebelum langit memeluk cahaya

 

Lalu Engkau meninggalkan raga-Mu

 

Sejak saat itu
aku belajar mengenal sunyi

 

Setiap langkah terasa hampa,
setiap malam dipenuhi rindu
yang tak pernah menemukan muaranya

 

Aku merindukan wajah-Mu—
wajah yang memadamkan segala gelisah

 

Aku merindukan mata-Mu—
mata yang menembus segala kepura-puraan,
namun memandangku
dengan kasih yang tak pernah menghakimi

 

Kasih...

 

Kepergian-Mu
bukan sekadar kehilangan

 

Ia adalah ruang kosong
yang hanya dapat dipenuhi oleh hadirat-Mu sendiri

 

Berapa kali aku memanggil nama-Mu
dalam diam

 

Berapa kali air mata
menjadi doa
yang tak sanggup diucapkan bibirku

 

Hingga pada suatu keheningan,
Engkau mengutus seseorang

 

Ia datang tanpa suara

 

Menggenggam tanganku
seakan telah mengenalku sejak dahulu

 

Lalu dengan kelembutan yang hanya berasal dari-Mu,
ia berkata,

 

"Aku tidak pernah meninggalkanmu."

 

Saat itu,
seluruh dinding yang kubangun
di sekeliling hatiku
runtuh menjadi debu

 

Air mataku mengalir
bukan lagi karena kehilangan,
melainkan karena akhirnya kusadari:

 

bahkan ketika aku merasa sendiri,
Engkau sedang memelukku
dengan cara yang tak kupahami

 

Kasih...

 

Betapa sering aku mencari-Mu
di tempat-tempat yang jauh,

 

padahal Engkau berdiam
di ruang paling sunyi dalam jiwaku

 

Engkau menyelimutiku
dengan cahaya-Mu

 

Bukan cahaya yang menyilaukan mata,
melainkan terang
yang menenangkan hati

 

Lalu Engkau berfirman,

 

"Anak-Ku,
penantianmu telah usai

 

Aku tidak pernah pergi

 

Akulah yang menemanimu
di setiap air mata,
di setiap luka,
di setiap malam yang terasa tanpa ujung

 

Tidak akan ada lagi perpisahan,
karena kasih-Ku tidak mengenal jarak,
dan kehadiran-Ku tidak dibatasi ruang maupun waktu."

 

Aku tersungkur

 

Tak ada lagi kata-kata
yang pantas kuucapkan

 

Hanya air mata
yang mengalir menjadi doa.

 

Dalam gemetar aku berbisik,

 

"Kasih...

 

Layakkah aku menerima cinta-Mu?

 

Aku datang membawa debu,
sedang Engkau menyambutku dengan cahaya

 

Aku datang dengan tangan kosong,
sedang Engkau memenuhi keduanya dengan anugerah.

 

Aku datang dengan hati yang terluka,
sedang Engkau memelukku tanpa syarat."

 

Engkau tidak menjawab

 

Sebab pelukan-Mu
telah menjadi jawaban
atas seluruh pertanyaanku

 

Dalam keheningan itu
aku mengerti

 

Cinta-Mu
tak pernah menuntut agar aku menjadi sempurna

 

Cinta-Mu
hanya memintaku pulang

 

Maka biarlah sisa hidupku

 

menjadi doa yang tak putus,
menjadi langkah yang selalu menuju-Mu,

menjadi napas yang senantiasa mengingat nama-Mu

 

Dan bila kelak
segala yang fana ini berakhir,

 

izinkan aku tenggelam selamanya

 

di dalam samudra kasih-Mu—

 

tempat segala rindu pulang,
tempat segala air mata menjadi sukacita,
tempat hanya ada Engkau,

 

dan kasih-Mu
yang tak pernah berkesudahan.

 

(Secret Garden of The Divine Mother, 9 July 2026)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadgati Praptir-astu, Memaknai Kematian

Holistic Health Series Part 3: Manfaat Nyeker atau Earthing

Self-Discipline: Walking Barefoot