Holistic Health Series Part 1 – Mendisiplinkan Pikiran

“Dalam diri seseorang yang memikirkan objek-objek pemikat indra timbullah ketertarikan dan keterikatan pada objek-objek di luar itu. Dari ketertarikan dan keterikatan, timbullah amarah (ketika keinginan tidak terpenuhi).”

(Anand Krishna, buku Bhagavad Gita, Sloka 2:62)


Monkey Mind

Para bijak berkata bahwa pikiran itu sangat liar, suka lompat sana dan lompat sini layaknya monyet. Maka dari itu pikiran yang liar sering dikenal dengan istilah monkey mind.

Pertanyaannya?

Apakah pikiran tidak bisa dikendalikan?

Dalam percakapan antara Arjuna dengan Krishna, Sang Mentor sebelum dimulainya perang Bharata Yuda, 5000 tahun yang lalu, Arjuna juga mengeluhkan hal yang sama.

“Krishna, pikiran ini sangat liar seperti angin. Sangat mustahil untuk mengendalikannya.”

Krishna menanggapi Arjuna:

“Sulit iya, tetapi bukannya mustahil. Pikiran yang liar bisa dikendalikan dengan upaya yang intensif dan repetitif, dengan upaya yang terus-menerus tanpa henti.”

Istilah Sansekerta yang digunakan untuk upaya yang intensif dan repetitif adalah Abhyas, kata sederhana dalam Bahasa Indonesianya ya disiplin. Yang namanya disiplin ya proses setiap hari, bukan sekali waktu, sesekali saja, terus selesai perkara dan finito, kita telah berhasil. Tidak, tidak seperti itu.

Saya juga teringat sebuah kutipan yang saya baca dari sebuah buku karya Jim Rohn:

“Failure is not a cataclysmic event. It is not generally the result of one major incident, but rather than a long list of accumulated little failing.”

Maksudnya, kegagalan bukanlah suatu kejadian besar yang tiba-tiba terjadi, bukan seperti langit yang tiba-tiba runtuh dan menerpa diri kita. Tetapi kegagalan adalah sebuah akumulasi dari kegagalan-kegagalan kecil, kita gagal melakukan hal-hal kecil setiap harinya sehingga dalam kurun waktu tertentu menjadi hal yang besar dan mematikan.

Pada suatu ketika, saya berangkat ke Anand Ashram Ubud dengan dua orang kawan senior untuk mengikuti kelas diskusi buku karya Guruji Anand Krishna. Saat itu saya mengantuk sekali jadi setengah tertidur di mobil dan sekilas sebelum tertidur mendengar percakapan mereka berdua yang berada di depan saya.

Mereka mengatakan bahwa mereka tidak punya waktu setiap hari untuk mempraktekkan meditasi yang diberikan Guruji Anand Krishna karena begitu sibuk dengan pekerjaan. Jadi ya, meditasi hanya dilakukan seminggu sekali saat mengikuti kelas regular yang diadakan di Anand Krishna Centre Kuta.

Saya kemudian berguman dalam hati, sesibuk itukah?

Bagi saya, meditasi adalah sebuah kebutuhan, sudah seperti bernafas saja bagi saya. Jika saya tidak meditasi setiap hari, saya akan gelisah sendiri dan kehilangan arah dan fokus pada hari itu. Jadi saya selalu bermeditasi setiap hari. Meditasi adalah bagian dari hidup saya.

Pada pagi hari, saya hanya butuh waktu 15 – 20 menit. Lima menit pertama saya gunakan untuk memejamkan mata dan mengatur nafas yang masuk dan keluar dari hidung. Kemudian sisa waktunya saya gunakan untuk mantra meditation, meditasi dengan melantunkan mantra singkat (3 – 4 kata) dalam Bahasa Sansekerta sebanyak 1 putaran mala (108 kali pengulangan) menggunakan japamala yang terbuat dari biji Rudraksa.

Siang hari, saya punya waktu istirahat 1 jam. Tiga puluh menit saya alokasikan waktu untuk makan, dan 30 menit berikutnya saya alokasikan untuk meditasi. Saya melakukan dua meditasi pada siang hari, yaitu meditasi Emotion Culturing* dan Sight Culturing** versi singkat sebagaimana yang diajarkan oleh Guruji Anand Krishna. Serta saya tambahkan satu Mantra Meditation singkat, sama, saya lakukan juga 1 putaran mala (108 kali pengulangan). Untuk panduan meditasi Emotion Culturing dan Sight Culturing, pembaca silakan membaca buku Neo Self-Empowerment karya Guruji Anand Krishna.

Disiplin adalah upaya pribadi dan tidak bisa dipaksakan. Di atas segalanya, kita harus memahami dulu apa manfaat meditasi. Praktek yang kita lakukan membuat kita memiliki pengalaman pribadi. Tanpa praktek, kita tidak akan memiliki pengalaman pribadi.

Meditasi membuat saya menjadi tenang dan terkendali. Dalam kondisi apapun, saya bisa menghadapi situasi tanpa harus panik. Jika mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan, saya dengan cepat bisa melewatinya tanpa perlu terseret arus dan berkeluh kesah berkepanjangan karenanya.

Intinya, praktek, praktek dan praktek. Tidak ada yang bisa mengalahkan mereka yang memiliki disiplin diri.

Saya mendengar cerita dari seorang sahabat yang mengunjungi teman lain yang sedang dirawat di rumah sakit karena terkena serangan stroke dengan usia relatif muda, 40-an tahun. Sahabat itu bertanya kepada teman yang sakit tersebut:

“Apakah Anda meditasi tiap hari?”

Dia menjawab: “Tidak, saya tidak melakukannya. Paling hanya seminggu sekali saat latihan bersama.”

Sudah bertemu dengan seorang Guru sekaliber Bapak Anand Krishna, tapi jika tidak mempraktekkan apa yang diajarkan ya percuma. Meskipun seseorang bergabung dengan sebuah padepokan spiritual, mengenal seorang Guru belasan tahun, bahkan puluhan tahun tapi jika tidak meditasi tiap hari, kita tidak akan kemana-mana. Kita akan berjalan di tempat dalam jangka waktu yang sangat lama. Dan kita pikir sudah sampai tujuan, padahal kenyataannya masih jalan di tempat.

Logika sederhananya:

Ada dua orang penggali sumur, yang satu bernama Shreya, yang satu bernama Preya. Mereka diberi target untuk menggali sedalam 30-meter untuk menemukan sumber air. Shreya melakukan penggalian sumur setiap hari, 1 hari bisa menggali sedalam 1 meter, rajin. Preya, seorang pemalas, hanya menggali sumur 1 minggu sekali, sedalam 50 cm. Coba tebak, siapa yang akan lebih dulu mendapatkan sumber air? Tentulah Shreya, karena dia disiplin.

Shreya menyelesaikan pekerjaannya dalam 30 hari, finito. Preya menyelesaikannya dalam waktu 60 minggu, 420 hari, setahun lebih baru bisa menyelesaikan pekerjaan. Sungguh sangat tidak efisien.

Sekarang mau kita apa?

Mau disiplin atau malas-malasan? Pilihan ada di tangan kita. Disiplin membuat kita lebih cepat mencapai tujuan. Ketidakdisplinan membuat kita mencapai tujuan dalam waktu yang sangat lama, selain itu ketidakdisiplinan selalu mengundang penyakit. Sekarang mau kita apa? Silakan tentukan pilihan Anda sendiri. Selamat memilih.

“Semua ketidaknyamanan/penyakit disebabkan oleh kesalahan identitas yang menganggap tubuh, panca indra, dan gugusan pikiran serta perasaan sebagai Diri Sejati. Begitu kau menyadari dirimu yang sejati dan bertindak tepat sebagaimana mestinya, semua ketidaknyamanan akan hilang sendiri.”

(Anand Krishna, kutipan buku In the Footsteps of the Master, hal. 107)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadgati Praptir-astu, Memaknai Kematian

Self-Discipline: Manfaat Nyeker atau Earthing

Self-Discipline: Walking Barefoot