Vivaha, Parenting, dan Pendidikan Part 7: Generasi Terjun Bebas

“Dengan memanjakan anak-anakmu, kau tidak membantu mereka.

Justru kau melemahkan semangat mereka, dan membuat mereka

tidak mampu berdiri di atas kaki mereka sendiri. Kasihi mereka

dengan mendisiplinkan mereka dan menegur mereka atas

perilaku buruk dan kesalahan yang

mereka perbuat.”

(Anand Krishna, kutipan buku In the Footsteps of the Master, hal. 52)

Salah seorang teacher bertanya kepada saya: “Mengapa ya justru anak-anak yang sejak TK atau SD bersekolah di sekolah kita parah sekali hasil proyeknya dibandingkan 2 orang anak yang baru bergabung dengan sekolah kita sejak SMP?”

Saat itu, saya dengan dua orang teacher lain sedang berdiskusi mengenai hasil proyek kelulusan kelas 9 dan sebagian besar dari anak-anak ini mengerjakannya pada detik-detik terakhir, alias last minute. Mereka diberikan waktu selama 6 bulan untuk mengerjakan sebuah proyek yang mereka pilih berdasarkan minat dan bakat mereka, tetapi hampir 80% dari siswa sangat santai pada 4 bulan pertama dan ngebut dalam 2 bulan teraknir, bahkan ada 1 siswa yang ngebut selama 1 minggu terakhir. Luar binasa cara mereka mengatur pengerjaan proyek pribadi tersebut.

Pada saat presentasi, mereka semua dengan jujur menyampaikan bahwa mereka sibuk bermain game online atau melakukan doomscrolling (aktivitas berselancar di dunia online untuk menonton konten-konten sampah dan tidak bermanfaat). Mereka baru sadar bahwa waktu sudah berlalu begitu cepat menjelang ujian proyek dan presentasi sudah mendekat.

Saya kemudian berkata: “Semua itu karena pola asuh orang tua mereka di rumah.”

Anak-anak yang sejak TK atau SD yang bersekolah di sekolah kita rata-rata memiliki parenting style yang tidak kondusif. Orang tua cenderung memanjakan anak-anak mereka dan tidak tegas dalam membatasi penggunaan gadget anak-anak mereka di rumah.

Kasus pribadi yang saya alami adalah, saya menjadi mentor dari 4 orang anak (1 orang anak kelas 12 dan 3 orang anak kelas 9). Secara umum, keempat anak ini tidak menonjol secara akademik, dan salah satunya memiliki kecenderungan anak berkebutuhan khusus (ABK), autis. Selain itu, mereka masuk ke dalam katagori anak-anak yang suka main game online dan melakukan doomscroling.

Kisah Parenting Anak SMA Bernama Trisna.

Trisna, seorang anak Perempuan, bergabung dengan sekolah tempat saya mengajar saat kelas 7 di tengah pandemi covid 19 sedang terjadi. Memiliki kasus insomnia yang parah karena kecanduan internet dan suka mengantuk saat pelajaran sedang berlangsung. Orang tua tidak memiliki kontrol, tidak tegas dan selalu merasa dirinya sebagai korban serta suka menyalahkan keadaan atas setiap kejadian dalam hidupnya.

Saat menyelesaikan proyek untuk kelulusan kelas 9, teacher yang membimbing anak tersebut mengeluhkan sikap dan perilaku anak tersebut yang sangat tidak sopan saat bimbingan dan kinerja deadline yang sangat buruk. Saat kelas 12 kondisinya semakin parah sejak dibelikan iPad oleh orang tuanya. Setelah memilki iPad, doomscrolling semakin tidak terkendali, begadang hingga pagi hari. Hal ini menyebabkan ia selalu terlambat datang ke sekolah dan selalu mengantuk saat jam pelajaran berlangsung.

Saat mengerjakan proyek kelulusan kelas 12, selama hampir 5 bulan, ia overthinking tidak jelas dan baru mengerjakan proyek pada 1 bulan terakhir saat mendekati presentasi dan ujian akhir dengan hasil yang bagi saya pribadi tergolong buruk untuk level SMA. Proses konsultasi tidak berjalan lancar karena ia malas datang untuk berkonsultasi tentang perkembangan proyeknya.

Saat menulis laporan lebih banyak bengong dan mengaku tidak tahu harus menulis apa. Padahal sudah pernah menulis laporan serupa saat mengerjakan proyek kelulusan kelas 9. Setiap menulis satu paragraf baru akan selalu bertanya kepada saya karena tidak punya ide harus menulis seperti apa. Saya sempat marah dengan kinerja seperti itu karena sebelumnya ia sudah pernah mengerjakan laporan, tetapi malas berpikir dan malas untuk berupaya.

Kisah Parenting Anak SMP Bernama Nakula.

Nakula bergabung dengan sekolah kami sejak TK, merupakan anak tunggal, laki-laki dan diperlakukan dengan sangat manja. Saat pandemi sempat mengalami phone addiction yang parah, secara akademik memiliki kemampuan berada dengan standar yang di bawah rata-rata.

Saat mengerjakan proyek, saya pada awalnya meminta dia membuat sebuah video esai tentang dampak phone addiction pada anak-anak supaya tidak sama dengan salah seorang temannya yang berencana membuat film pendek tentang akibat brain rot. Setelah liburan semester berakhir, dia datang dengan membawa sebuah konsep yang berbeda dari apa yang saya minta. Dia ingin membuat sebuah film pendek, tetapi skrip yang diberikan kepada saya sangat tidak jelas. Hanya sebuah skrip dengan 2 paragraf dengan cerita yang tidak jelas mana ujung dan mana pangkalnya. Setelah saya berikan arahan pun masih tidak mudeng, masih tidak mengerti harus menulis apa.

Freefall - Terjun Bebas

Butuh waktu lebih dari 2 minggu untuk membuat skrip yang sangat sederhana. Begitu juga saat saya minta untuk membuat story board, mengambil video dan mengedit video, awalnya direncanakan selesai dalam 4 minggu, ternyata menjadi 6 minggu. Video diselesaikan H-1 sebelum presentasi dan ujian dengan hasil yang sangat jauh di bawah standar. Meskipun orang tua yang bersangkutan mengangumi hasil karya anaknya dan memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada pihak sekolah atas segala Upaya yang sudah dilakukan dalam memfasilitasi anak-anak; jujur saya tidak puas. Saya kecewa dengan kinerja, hasil, deadline video yang baru diselesaikan H-1. 

Bagi semua orang, angkatan pertama yang menyelesaikan SMA di sekolah tempat saya mengajar adalah angkatan terbaik. Tetapi bagi Guruji Anand Krishna, Angkatan tersebut masih dianggap belum apa-apa dan masih jauh di bawah standar. Apa kabar yang angkatan saat ini? Semakin lama kualitas karya anak-anak ini semakin terjun bebas. Saya khawatir, angkatan berikutnya akan menjadi Angkatan Terjun Bebas, Free Fall Generation.

Kisah Parenting Siswa SMP Bernama Prema

Prema, seorang anak perempuan yang berasal dari Sumatra, bergabung dengan sekolah kami saat SMP kelas 7, tinggal di asrama sekolah. Orang tuanya aktif dalam Yayasan Anand Ashram. Siswa yang rajin, pekerja keras, aktif, dan pintar. Saat mengerjakan proyek kelulusan kelas 9, dia mengalami banyak kendala untuk membuat sebuah produk kain batik dan melakukan trial and error dalam jumlah yang tidak terhitung. Saya beberapa kali melihat dia murung karena percobaannya tidak berhasil, tetapi dia tidak menyerah dan mencobanya lagi.

Sejak awal, orang tua tidak memberikan fasilitas laptop dan mengerjakan tugas-tugas sekolah menggunakan chrome book yang ada di sekolah. Dengan fasilitas seadanya, anak ini berprestasi dalam banyak hal, serta senang belajar hal-hal baru.

Saat akan membuat proyek kelas 9, ayahnya hanya membelikan laptop second hand yang kadang seringkali error dan harus diperbaiki berkali-kali. Padahal, ayahnya adalah seorang pengusaha percetakan di Sumatra dengan omset di atas 200 juta sebulan. Anak itu pernah bercerita bahwa dia pernah meminta untuk dibelikan iPad, tetapi ayahnya berkata: “Jika kamu mau iPad, kamu harus cari sendiri uangnya. Ayah tidak akan belikan.”

Saat akan membuat video singkat untuk mempromosikan produknya, dia meminjam HP Nakula (HP iPhone). Setelah selesai melakukan rekaman dia mendatangi saya untuk meminjam handphonenya.

Saya bertanya: “Mengapa Prema tidak menggunakan HP sendiri saat mengambil video dan malah pinjam HP Nakula? Kan sekarang cukup repot harus memindahkan data dari HP Nakula.”

Dia menjawab saya: “Teacher, hp saya kameranya burem banget, maklum HP tua jadi saya pinjam HP Nakula saja karena kameranya bagus. Tidak apa-apa nanti saya bisa pindahkan data dan mengedit pakai HP saya.”

Saya berkata kepada Prema:

“Bersyukurlah kamu memiliki ayah yang tegas dan disiplin, dan tidak memanjakan kamu. Jika kamu dimanja, maka kamu akan berakhir seperti teman-temanmu. Ekonomi orang tua pas-pasan, tetapi memanjakan anak-anak mereka dengan membelikan iPhone dan iPad. Hasil karyanya bukannya bagus, malah semua diselesaikan last minute dengan hasil yang jauh di bawah standar. Diberikan iPhone dan iPad, bukannya menggunakannya dengan baik, malah menjadi kecanduan main game online dan melakukan doomscrooling.”

Kisah Parenting Anak SMP Bernama Avidya.

Avidya, seorang anak laki-laki kelas 9 SMP, bergabung dengan sekolah tempat saya mengajar sejak kelas 1 SD. Memilki kecenderungan autistic dan slow learner, kecepatan menangkap pelajaran sangat lambat. Anak ini pernah diterapi di pusat kesehatan holistik yang kami miliki dan ibunya pernah berkata kepada salah seorang terapis di sana:

“Jika saya memberikan makanan yang tepat sesuai saran dari sesi terapi, maka anak-saya tidak terlalu hiperaktif dan bisa diatur. Tapi jika saya memberikan makanan yang tidak tepat maka anak itu tidak bisa dikendalikan.”

Anak ini terbiasa diberikan makanan dengan kadar gula yang sangat tinggi. Sang ibu tahu, tetapi lebih sering tidak melakukan apa yang dia harus lakukan. Semakin lama, anak ini semakin sulit untuk diarahkan, selalu terlihat mengantuk karena kebiasaan bermain game dan bergadang menggunakan gadget.

Pihak sekolah sudah memanggil berkali-kali sang ibu untuk memintanya melakukan tes IQ untuk si anak. Sang ibu selalu saja beralasan bahwa anaknya baik-baik saja. Dia sepertinya tidak bisa menerima kenyataan bahwa anaknya itu tidaklah normal dan membutuhkan penanganan khusus. Termasuk juga soal urusan penggunaan gadget si anak, ibunya selalu ngeles dan berkata bahwa anaknya seharusnya sudah bisa mengontrol diri dalam hal penggunaan gadget. Sang ibu sepertinya ingin melepaskan diri dari tanggung jawab yang dia pikul padahal penggunaan gadget berlebihan itu terjadi di rumahnya sendiri.

Pada saat mengerjakan proyek kelulusan kelas 9, Avidya sangat santai, mengerjakannya dengan sangat lamban dengan kecepatan kura-kura. Mulai panik pada saat minggu terakhir ujian dan presentasi proyek kelulusan akan berlangsung. Selama 4 hari terakhir sebelum ujian, dia baru mulai serius mengerjakannya. Saya sebagai pembimbing sempat mengatakan bahwa anak ini tidak layak untuk mengikuti ujian kepada wali kelasnya karena tidak ada upaya sama sekali.

Akhirnya dia diberikan keringanan karena termasuk anak ABK (anak berkebutuhan khusus). Laporan dan cerita pendek yang dia buat ala kadarnya, sekadar selesai dengan kualitas yang sangat minim. Laporan dan cerpennya pun harus saya print-kan karena saya tahu dia tidak akan menyelesaikannya. Meskipun sejujurnya saya kesal karena itu bukanlah tugas saya, tetapi di satu sisi saya juga kasihan terhadap anak itu karena orang tuanya sama sekali tidak peduli.

“A good education begins at home. You cannot blame a school for not nurturing values in your child that you have not instilled.”

~ Anonymous

Terjemahan bebas:

“Pendidikan yang baik berawal dari pendidikan di rumah. Anda tidak bisa menyalahkan pihak sekolah karena tidak menanamkan nilai-nilai kehidupan universal jika Anda tidak sendiri (sebagai orang tua) tidak pernah mengajarkannya kepada anak-anak di rumah. Jika pun sekolah menanamkan nilai-nilai budi pekerti di sekolah, dan orang tua tidak meneruskannya di rumah maka semua itu tidak akan berarti banyak."

Dalam videonya, Guruji Anand Krishna mengingatkan bahwa pendidikan yang utama itu adalah pendidikan di dalam keluarga, pendidikan di rumah; sekolah itu adalah yang kedua. Orang tua memiliki tanggung jawab, bukan hanya membesarkan anak-anak mereka, tetapi harus mampu mendidik anak-anak mereka. Orang tua harus menjadi teladan anak lewat perilaku disiplin, jujur, hidup sehat, dan lain-lain. Jika orang tua dan lingkungan di sekitar rumah tidak mampu mendukung semua itu, maka pendidikan di sekolah tidak akan berarti banyak, karena sebagian besar waktu anak-anak habis di rumah, bukan di sekolah.

Guruji Anand Krishna selalu mengingatkan pentingnya pendidikan di rumah. Pendidikan di rumah adalah pendidikan yang utama. Jika orang tua tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, tidak mampu mendisiplinkan dan memanjakan anak-anaknya, maka semua itu tidak akan berarti. Ketika sekolah sudah menjalankan perannya dengan baik, tetapi jika parenting style tidak selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan di sekolah; maka janganlah Anda berharap banyak. Anak-anak Anda tidak akan mampu mencapai ideal tertinggi. Ia akan tumbuh menjadi manusia kelas mediocre, manusia yang biasa-biasa aja, tidak akan mampu menjadi kontributor dan membawa perubahan di dunia ini.

Sebuah renungan, bagi mereka yang berencana akan menjadi orang tua...

Picture courtesy: Tim Grundtner (pexels.com/photo/woman-in-white-dress-falling-on-gray-concrete-floor-3856635/)

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sadgati Praptir-astu, Memaknai Kematian

Self-Discipline: Manfaat Nyeker atau Earthing

Self-Discipline: Walking Barefoot