Postingan

Labirin Duka Derita Part 5: Sangram

Gambar
“Suprabhatam Guru, Pranaam …,” ucapku sambil merangkapkan kedua tangan kepada Gurudev dan menyentuh kaki beliau. “ Good morning Medha, selamat datang di Gurukula,” sambut Gurudev dengan bersemangat. Beliau kemudian mengajakku berkeliling di padepokan, di dalam padepokan itu terdapat sebuah Gurukula. Gurukula adalah sebuah sistem sekolah dimana anak-anak tinggal bersama dengan guru mereka. Guru berarti pengajar, pendidik dan kula berarti keluarga. Anak-anak yang tinggal di sana merupakan keluarga dari para pengajar, pendidik. Menjadi extended family para pendidik. Padepokan beliau sangatlah asri dengan kontur berbukit-bukit. Udaranya sejuk dan mendamaikan jiwa. Setelah puas berkeliling di padepokan beliau, aku ditunjukkan tempat pemondokan untuk kutinggali. Saat berjalan menuju pemondokan untuk meletakkan barang-barang, di teras depan, seorang anak laki-laki berusia 12-an tahun menyapaku dengan ramah. “Selamat pagi Ibu, selamat datang di Gurukula. Ibu pasti Teacher Medha ...

Labirin Duka Derita Part 4: Medha

Gambar
“Berjanjilah bahwa kau akan kembali dan mempertemukan kami dengan Master Agung,” ucap mereka dengan tangis terisak-isak menjelang detik-detik kematianku. “Aku hanya tersenyum dan berkata: “Jika Master Agung berkenan, maka kalian akan bertemu dengannya di salah satu masa kehidupan berikutnya.” “Master, berjanjilah pada kami. Jangan tinggalkan kami,” ucap mereka dengan tangis yang semakin menjadi. Racun yang ditaburkan pada makanan itu telah menjalar ke seluruh tubuhku dan aku sudah tidak kuasa untuk menahan semua itu. Saatnya telah tiba, aku harus pergi dari tubuh ini. Pada detik-detik terakhir itu, yang terbayang di pelupuk mata hanyalah wajah Guruku, Sang Master Agung. Aku merindukannya, sangat merindukannya. Rasa rindu membuncah dan memenuhi diriku. Tiada hal lain lagi yang terlintas dalam benakku selain wajahnya. Death is Myth Sesaat kemudian aku merasakan diriku melayang begitu ringan. Aku melihat tubuh tuaku tergeletak di pinggir pembaringan jerami   dan murid-muridk...

In Loving Memory of Mogan Saygar

Gambar
Tiada yang dapat memahami hidup ini karena ia adalah misteri. Misteri itulah yang memberi kita kekuatan untuk bisa menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Pada hari Kamis, 11 Agustus 2022, kami kehilangan seorang teman, sahabat yang sangat kami kasihi, Mogan Saygar. Dia pernah menjadi volunteer dan mendedikasikan waktunya selama beberapa bulan di One Earth School untuk mengajarkan silambam ( ancient Hindu Martial art yang menjadi cikal bakal Kungfu di China). Pada hari Jumat pagi dini hari, salah seorang sahabat di Malaysia (Yoganathan) mengabarkan berita duka itu kepada kami. “Mogan sudah meninggal, saat berangkat kerja pada malam hari sebuah truk bermuatan 3 ton menghantamnya dari belakang dan dia meninggal seketika.” OMG… hanya air mata yang menetes. Berita ini begitu mengejutkan, tidak ada yang pernah menyangka bahwa hidup bisa berakhir begitu saja. Setelah mendengarkan berita itu, kami dan para siswa berdoa di aula sekolah untuk Mogan. Sadgati Praptir-astu Mogan. Se...

Labirin Duka Derita Part 3: Ratri

Gambar
Bulan berganti bulan, musim berganti musim dan aku menikmati setiap kebersamaanku dengan Gurudev. Hampir setahun penuh kebersamaan dengan beliau telah kujalani dengan penuh sukacita. Pada suatu hari, ibu pemilik kontrakan tempatku tinggal mengenalkanku dengan seorang wanita yang baru datang ke kontrakan itu. Beliau meminta tolong padaku untuk memberi arahan padanya yang masih awam tentang kondisi Kota Gondwana. Aku spontan mengiyakan permintaan beliau karena aku pun dulu pernah berada pada posisi seperti dia. Sebagai pendatang baru di Kota Gondwana, aku pernah kebingungan dan tidak mampu beradaptasi dengan cepat di kota metropolis ini. Berikut cerita pertemuanku dengannya, dari sudut pandang dia, Ratri, yang kemudian menjadi kekasihku. Ratri bermakna Kegelapan, Darkness Aku baru saja merantau ke Kota Gondwana, dan tidak mengenal siapapun di kota ini. Kota ini merupakan kota metropolis di negeri kami. Semua orang dari berbagai penjuru negeri datang untuk mengadu nasib dan mencari ...

Labirin Duka Derita Part 2: Arya

Gambar
Saat mengalami dejavu, bayangan-bayangan temaram dalam mimpi terlihat begitu nyata dan detail. Saat itu aku melihat seorang pria dengan tubuh jangkung, gagah dan menawan sedang menunggu seseorang di sebuah penginapan di tepi pantai Adriatic. Pria tersebut masih muda, berusia sekitar 30-an tahun. Penginapan di tepian pantai Adriatic sangat asri dan dipenuhi dengan pepohonan yang rindang. Dia menunggu dengan sabar sejak tadi pagi sambil membolak-balik sebuah koran yang menunjukkan tahun 2000. Bosan membaca, dia berjalan di jalanan setapak menuju tepi pantai yang berpasir putih halus dengan hamparan pantai berwarna biru lazuli. Tepat pada pukul 5 sore, datanglah pria tua bersama ajudannya. Pria tua ini memiliki tubuh yang lebih jangkung dibandingkan pria muda tersebut. Penampilannya rapi dan sangat elegan dalam balutan kain tenun khas Sundaland, muka lonjong dengan mata yang sangat besar dan brewok yang tertata dengan rapi. Melihat pria tua itu datang menuju kamarnya, pria muda beranj...

Labirin Duka Derita Part 1: Cypher

Gambar
Salah seorang sahabat bercerita bahwa dia adalah seorang pembuat game. Suatu ketika ia ditugaskan untuk membuat game labirin. Saat menciptakan game tersebut, ia mengetahui jalan keluar dari labirin tersebut. Tetapi ceritanya menjadi berbeda tatkala ia memainkan sendiri permainan ciptaannya. Ia tidak bisa keluar dari game labirin ciptaanya. Apa kaitan antara permainan labirin dengan permainan kehidupan ini? Ashcombe Maze - Melbourne Keputusan-keputusan yang kita ambil dalam hidup, yang tidak dilandasi kesadaran (yang berlandaskan pada kesenangan sesaat/ preya ) pada akhirnya hanya membuat kita terjebak dalam labirin ciptaan kita. Kita terperangkap dalam jala labirin ciptaan kita sendiri, tidak bisa keluar dari perangkapnya. Kita berputar-putar terus dalam labirin ciptaan kita sampai mati. Dari satu masa kelahiran ke masa kelahiran berikutnya, kita terperangkap dalam labirin yang sama. Gali lubang tutup lubang, hanya untuk terjatuh di lubang yang sama kembali. Betapa bodohnya! Iro...