Postingan

Mind Mingle Sharing & Learning: Kujungan Lebih dari 20 Pemimpin Sekolah dari India ke One Earth School, Bali

Gambar
"Apa gunanya bersujud di depan patung-patung buatan manusia, di depan bangunan maupun gambar, jika kau tidak mampu bersujud pada pepohonan yang memberimu kehidupan, pada Bunda Alam Semesta, pada orang tuamu, pada para pembimbing spiritualmu, pada mereka yang pernah membantumu, sesedikit apapun bantuan mereka." ~  (Anand Krishna, In the Footsteps of The Master, verse 75) Bagaimana saya ingin mengakhiri kehidupan ini? Sebuah renungan panjang dan membutuhkan waktu bagi saya untuk menjawab pertanyaan ini. Saat itu, saya kehilangan arah, saya sudah hampir menyerah dengan kehidupan ini. Dalam kegelapan diri yang tak tentu arah itu, seorang Guru Sejati menghampiri dan menyentuh jiwa saya, memberikan makna baru bagi hidup saya.  Saya tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa syukur atas berkah yang Beliau berikan dalam kehidupan ini. Dalam Bahasa Persia, salah satu umpatan yang paling kasar adalah “Be Pir”, semoga kamu mati tanpa seorang Guru. Mengapa seorang Guru? Kau bisa memilik...

Jump, Leave Everything Behind

Gambar
“Kepalsuan dan apa yang biasa kau anggap sebagai kebenaran - keduanya adalah fakta kehidupan. Sementara itu, Kebenaran Tertinggi   atau Sathya , melampaui keduanya. Hanyalah Ketika kau berpaling pada Kebenaran yang Tertinggi Itu, kau dapat memahami arti Dharma   (Kebajikan atau Kebenaran   dalam Keseharian Hidup) bukan sebelumnya. Tidak pernah sebelumnya.” (Anand Krishna, In the Footsteps of The Master, verse 46)   Cinta dan rasa takut tidak akan pernah hadir pada saat yang bersamaan. Dimana ada rasa cinta, di sana tiada rasa takut. Dimana ada rasa takut, maka cinta tidak akan bersemi. Pertanyaan berikutnya, apakah hanya dengan menyatakan Cinta kepada seorang Guru, kita sudah benar-benar mencintai Guru kita? Apakah sekadar kata-kata belaka mampu membuktikan Cinta kita kepadaNya? Dalam sebuah pertemuan, salah seorang teman bertanya kepada Guru tentang bagaimana penerapan viveka (kemampuan untuk memilah antara yang tepat dan tidak tepat). Guru menjawab dengan...

Mengingat Pesan Ma Archana, Rebel for Big Thing

Gambar
“ …mine is Ancient Love Affair, and the only truth that is Conceivable… What do i Care for Social Norms, and for the Worthless Worldly Honor? Not for Single Moment can i possibly forget the Beauty of my Love… Mere to Giridhara Gopala, Dusro Na Koyee   (Anand Krishna, Love - Maha Anubhava: The Ultimate Experience) Ma Archana, sebuah nama yang begitu indah. Pertemuan dengan beliau pun terasa begitu indah, dan masih segar dalam kenangan ini. Selain sosok Guruji Anand Krishna, sosok Ma Archana adalah sumber inspirasi yang tidak ada habisnya. Setelah bertemu dengan Guruji pada bulan September 2015, saya kemudian diberkahi dengan pertemuan dengan Ma Archana. Saat itu, saya mengalami kebingungan yang luar biasa dalam hidup. Saya kehilangan arah, tidak memiliki tujuan dalam hidup ini, seperti seekor anak ayam yang kehilangan induknya. Satu kesalahan saya adalah saat menggapai cita-cita melanjutkan jenjang S2 di Australia, saya tidak menetapkan tujuan baru dalam hidup. Saya te...

Hidup, Sebuah Misteri Tak Terpecahkan

Gambar
Siapa yang bisa menebak jalannya hidup? Hidup adalah sebuah misteri yang tidak pernah bisa dijelaskan, yang tidak akan bisa dipecahkan. Kelahiran dan kematian terjadi, tetapi kehidupan terus berjalan. Misteri Kehidupan Beberapa hari lalu, sebuah berita mengejutkan datang dari sebuah teman yang saat ini sedang menyelesaikan S3 di USA. Sahabat tersebut meminta konfirmasi tentang kebenaran sebuah berita tentang kematian seorang sahabat lain. Dalam berita tersebut dinyatakan bahwa sahabat kami meninggal karena dibunuh oleh tukang bangunan karena dia komplain dengan pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan pesanan.  Di zaman ini, orang bisa membunuh orang lain dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Mereka layaknya memotong hewan saja saat membunuh manusia. Kemanakah perginya kemanusiaan manusia? Masihkah manusia bisa disebut manusia ketika ia sudah kehilangan kemanusiaannya. Saya kemudian bertanya kepada salah seorang teman di Mataram untuk mengkonfirmasi kebenaran berita...

Di Sebuah Persimpangan Jalan

Gambar
Termenung Dalam pekatnya malam Cahaya temaram meruak   Sebuah persimpangan jalan terhampar di depan mata Kemana kaki ini harus kulangkahkan? Entah   Masa kini sedang berlalu Segala cita dan asa telah terajut Dalam sebuah janji suci dan pengabdian   Tetapi berikutnya kemana? Harus apa?   Maa, jangan pernah lepaskan genggamanMu Aku tidak tahu apa yang terbaik untuk diri ini Tetapi Engkau, mengetahui segalanya   Tuntun anakMu ini Untuk melanjutkan langkah berikutnya   Entah menyatu dan kembali padaMu Atau kembali lagi ke mayapada ini Kuserahkan semuanya padaMu KebijakanMu adalah yang terbaik   Selama Engkau menggenggam erat jemari ini Lautan api kan kuseberangi Tuk menggapai cintaMu   Picture courtesy: Lukas Rodriguez https://www.pexels.com/photo/aerial-photography-of-island-3427774/

Cinta, Imbalan Untuk Cinta

Gambar
“Datang, mendekatlah. Duduklah di dekatku.” “Aku?” “Iya, engkau.” Aku bingung, tetapi dengan spontan kemudian duduk di dekatnya. Rasanya damai dan menenangkan. Entah, rasa yang aneh dan hanya pernah kualami ketika duduk dekat Guruku. Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan diri ini? Rasa ini apa? Rasa ini tidak asing, sudah berkali-kali pernah terjadi ketika duduk di dekat Guruku. Tetapi dia membuat rasa yang kurasakan saat berdekatan dengan Guruku terasa begitu nyata. Wajahnya teduh, menenangkan. Suaranya mengalun merdu di telingaku laksana tiupan angin pagi. Cara bicaranya mendamaikan, ramah, hangat dan penuh dengan ketulusan. Dalam sesaat, suaranya membuatku mengembara begitu jauh. Menembus kedalaman kalbuku, aku masuk ke dalam diriku. Suaranya, ah…. Begitu memabukkan. Nyatanyakah pertemuan ini? Aku merindukannya Sangat rindu Rindu yang membuatku ingin melabuhkan hatiku padanya Pada dia, yang penuh dengan cinta Cinta yang membangkitkan kesadaran Cinta, ad...

Vivaha, Parenting, dan Pendidikan Part 2: Diti dan Aditi

Gambar
Diti dan Aditi adalah putri dari Prajapati Daksa yang merupakan salah satu Manasa Putra (ia yang terlahir dari pikiran) Brahma, Sang Pencipta. Kedua-duanya dinikahkan dengan Resi Kasyapa yang merupakan salah satu dari Saptarishi (tujuh resi yang ditugaskan untuk membuat dunia memiliki populasi). Selain Diti dan Aditi, Kashyapa juga menikah dengan 11 putri dari Daksa yang lain. Kasyapa and Wives Dalam proses perjalanan pernikahan mereka, Diti belum memiliki anak, sementara saudara-saudaranya sudah dikaruniai dengan keturunan. Diti menjadi sangat cemburu dengan saudara-saudaranya dan yang paling dia cemburui adalah Aditi. Aditi adalah sosok wanita yang ideal dan sangat berbakti kepada suaminya, Kasyapa memberkatinya dengan anugrah. Aditi berdoa agar diberikan satu anak yang ideal dan berbudi pekerti baik. Dari permohonan tersebut lahirlah Indra. Kemudian, Aditi juga dikarunia putra-putra lain yaitu Varuna, Parjanya, Mitra, Amsha, Pushan, Dhatri, Aryaman, Surya, Bhaga, Savitr, dan Vaman...

Sebutir Pasir Menantang Lautan

Gambar
Sebutir pasir menantang lautan Laut hanya tersenyum menyambut tantangannya Laut terdiam sejenak Kemudian menyapunya dalam sekejap mata Sebutir pasir sirna, ditelan lautan tanpa ampun Kisahnya berakhir sudah Tiada hal yang lebih menyedihkan bagi seorang teacher ketika anak-anaknya dikuasai ego dan arogansi. “Aku akan pergi ke melanjutkan SMA ke tempat lain untuk meninggalkan “zona nyaman”. Menurutku One Earth School adalah zona nyamanku, aku ingin keluar dari zona nyaman untuk membuktikan diri bahwa aku bisa bertahan seorang diri di luar sana.” Komentar lain adalah… “Anak saya akan keluar karena dia ingin membuktikan kepada anak-anak lain di luar sana bahwa anak One Earth School bisa mempertahankan karakter yang sudah terbentuk di sekolah dimana saja di luar sana.” Entahlah, saya punya pengalaman pribadi tentang hal ini. Saya pernah menjalani hidup selama 30 tahun tanpa naungan seorang Guru Sejati. Saya pernah hidup di luar sana, pernah menjadi bagian kerumuman mas...